Stress adalah kegagalan adaptasi suatu individu terhadap lingkungannya sehingga muncul gangguan homeostasis. Gangguan homeostasik ini akan terekspresikan dengan simtom penyakit fisik dan mental. Berbagai factor yang mempengaruhi stress, diantaranya adalah perubahan kebiasaan pola hidup secara darktis missal terhadap makan dan minum, transfortasi jarak jauh, perpindahan kandang dan tempat tinggal, kehadiran predator, penghendelan dan perlakuan yang kasar serta perubahan iklim dan cuaca lingkungan.
Factor lain yang menyebabkan stress adalah spesies hewan, kualitas dan kuantitas hewan, bentuk container, kuantitas sisa bahan pakan, minum dan urin, kecepatan laju kendaraan. Kondisi lingkungan turut menentukan tingkat stress, ini meliputi temperature, kelembaban, suara gaduh, ventilasi dan cahaya serta perlakuan selama perjalanan.
Secara normal, tubuh akan merespon setiap stimulant dari dalam atau luar tubuh untuk mempertahankan homeostasisnya. Tubuh yang mengalami stress akibat ketakutan, kerja fisik jangka pendek dan atau penurunan tekanan darah maka hipotalamus merangsang system saraf simpatis dan medulla adrenal untuk menstimulasi sekresi katekolamin.
Stress kronik sering terjadi pada penderita penyakit infeksi, kondisi kelaparan dan rasa nyeri, hal ini menstimulasi pelepasan ACTH dan control serta hipertropi adrenalin. Kortisol membantu katekolamin memobilisasi asam lemak dan gliserol dari sel lemak yang dibutuhkan oleh jantung dan hati. Kortisol bekerja pada otot, tulang limfe untuk melakukan katabolisasi proten menjadi asam amino. Asam amino di ambil dari hati untuk reparasi dan regenerasi jaringan. Kortisol menstimulasi hati agar membentuk enzim, mengkonversi asam amino ke dalam bentuk glucose (glukoneogenesis). Kortisol meningkatkan kerja glukoagon dan growth hormone. Glukosa dari glukoneogenesis masuk ke dalam darah agar kadar gula darah meningkat. Kortisol menurunkan suplai glukosa pada otot dan jaringan perifer tetapi glukosa tersebut dipergunakan secara maximum oleh otak dan jantung.
Sekresi kortisol yang berlebihan dalam jangka panjang merupakan respon terhadap stress, akan menyebabkan peningkatan asam lambung sehingga daya tahan lambung dan duodenum akan menurun, dan terjadi ulkus lambung. Kortisol menyebabkan penurunan leukosit, atropi kelenjar limfe sehingga daya tahan tubuh terhadap infeksi menurun. Kortisol berlebihan dapat menyebabkan hipertensi dan gangguan vaskuler.
Mekanisme stress yang lain tampak perubahan pada dopamine. Dopamin merupakan neurotransmitter yang disekresikan oleh neuron dari substansi gria mid brain. Dopamine berperanan penting untuk kesehatan mental dan fisik. Secara normal, dopamine akan mengaktivasi protein Gi sehingga kanal ion K+ akan terbuka dan ion K+ akan keluar, maka terjadi hiperpolarisasi dan penghambatan transmisi potensial aksi yang menstimulasi eksitabelitas jaringan maka hewan tampak tenang atau rileks. Dopamin pada posisi lain mengaktivitasi protein Gi yang berikatan dengan reseptor α2, kondisi ini akan menghambat adenil siklase sehingga cAMP menurun. Hal ini sebagai umpan balik kanal ion K+.
Hewan dalam kondisi stress dalam mensekresikan dopamin yang berlebihan sehingga aktivasi protein Gi meningkat dan aktivasi kanal ion K+ pun meningkat. Hal ini menyebabkan ion K+ dalam jumlah berlebih akan keluar dari kanal ion sehingga terjadi hiperpolarisasi dan penghambatan transmisi potensial aksi yang berlebihan hingga terjadi hipereksitabelitas jaringan dan mendepresikan susunan syaraf pusat.
Ada 2 macam reaksi yang dalam kondisi stress.reaksi pertama terjadi adalah situasibrespon lari atau lawan. Fase ini menunjukkan tubuh mempersiapkan diri untuk menghadapi bahaya dengan salah satu atau dua cara yang ditawarkan, yakni melawan atau melarikan diri. Perubahn fisiologis yang diperlukan untuk melawan atau melarikan diri adalah sama. Hipotalamus di otak mengisyaratkan ACTH untuk menstimulasi kortek adrenal untuk mensintesa dan melepaskan kortisol pada zona fasiculata. Kortisol mengikuti sirkulasi darah sehingga denyut jantung meningkat dan pernapasan menjadi dangkal. Denyut jantung yang meningkat secara mendadak tersebut menyebabkan suplai darah ke otot dan otak meningkat maka tubuh membutuhkan energy ekstra untuk merespon terhadap bahaya tersebut, pada kondisi demikian suplai gula darah meningkat. Fisiologis tubuh , otot tampak melakukan tindakan melawan atau melarikan diri. Akibat redistribusi ini maka Nampak pucat, bagian ekstremitas menjadi dingin, ekspresi muka cemas dan ketakutan.
Reaksi kedua adalah memudar dan menghilangkan reaksi khawatir, sehingga tubuh Nampak kembali normal. Rasa puas terjadi karena tubuh telah mengatasi stress. Namun, jika stressor bertahan maka sebenarnya tubuh melawan secara aktif untuk sementara waktu dan bila tubuh tetap berada dalam tekanan, maka akan muncul gejala-gejala baru. Gejala ini sama dengan yang terlihat pada reaksi khawatir, yang akibatnya tubuh menjadi semakin rentan terhadap penyakit dan disfungsi organik.
NOTE:Tulisan ini di kutip dari Skripsi.
Stres dapat menyerang setiap insan dimuka bumi, kecuali bagi mereka yang sudah tidak mampu berfikir sehat lagi..., gak percaya????? emang sapa sih diantara kita yang tidak pernah punya masalah??

maaf mbak, saya merasa terbantu sekali dgn postingan anda, kebetulan saya sekarang lg tengah mempersiapkan skripsi tentang animall stress. saya mau bertanya, bagaimana mekanisme stres pd hewan dr pelepasan ACTH sampai bisa menyebabkan penurunan leukosit? atas bantuannya saya mengucapkan terima kasih. tari jogja
BalasHapus