Isu penyakit menular dari hewan ke manusia dan sebaliknya (istilah kedokteran zoonosis) semakin marak dan menjadi momok dunia kedokteran hewan. Pola hidup manusia yang terus bergantung pada ketersediaan alam pun tak dipungkiri. Karena ketersediaan pangan dialam menentukan kebutuhan manusia akan nutrisi oleh tubuh. Sehingga kehidupan manusia dapat dipertahankan secara turun temurun. Umat islam memperingati "Idul Adha" setiap tahun secara bersama sembari menyembelih hewan qurban bagi yang mampu untuk di bagi kepada sesama.
Hewan Qurban bagi Umat Islam
Menyembelih hewan qurban merupakan sunah yang di wajibkan kepada setiap keluarga muslim yang mampu secara ekonomi, dan dilaksanakan setelah shalat idul adha samapai 3 hari tasryiq. Hewan qurban yang dimaksudkan adalah hewan-hewan ternak berupa sapi, kerbau, kambing, domba dan unta.
Hewan yang sehat secara fisiologik tanpa mengalami gangguan. Hal ini dapat diketahui dengan melihat cirri-ciri yang tampak dari luar. Kondisi mata hewan yang sehat tampak jernih, terang, tidak keruh, tidak pucat, tidak berlendir dan tidak juling. Rambut atau bulu teraba halus dan tidak mudah rontok, kulit bersih dan tidak berkeropeng, pangkal ekor bersih tanpa sisa kotoran, badan tegak, berdiri dengan kokoh dan berjalan tidak pincang. Nafsu makan dan minum baik. Jika ada ketimpangan dari cirri-ciri hewan sehat tersebut diatas, maka kita perlu mewaspadainya.
Sebenarnya masih banyak factor lain yang menjadi acuan kita dalam menentukan hewan tersebut sehat atau tidak. Misal perlakuan sikap yang kasar dengan menyeret, memukul dengan kayu atau bambu serta menendang akan menyebabkan trauma, luka memar bahkan stress. Hal ini sering terjadi pada saat perawat hewan terlalu lelah dalam menhendel hewan pada saat transfortasi, menjatuhkan hewan atau sesaat menjelang proses penyembelihan.
Stres
Stres dapat merangsang glikolisis aerobic sehingga glikogen dalam daging sangat berkurang dan pH tetap tinggi. Stress dapat menyebabkan biokimiawi daging berubah yang ditandai dengan pembentukan asam laktat dan penurunan derajat keasaman daging yang rendah, maka air akan bertahan dalam sel. Kondisi demikian menyebabkan tekstur daging menjadi kenyal dan permukaan yang kering dan warna daging menjadi lebih gelap.
Hal lain yang perlu diwaspadai adalah penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia dan sebaliknya misal Anthrax. Namun ada satu hal yang sering dilupakan oleh para blantik (istilah:pedagang hewan), mereka sering kurang memperhatikan aspek kesehatan hewan pada saat kekurangan stock hewan dalam mengejar target penjualan. Biasanya para blantik menjual hewan-hewan yang sehat dan tidak cacat fisik berdasar penafsirannya. Sedangkan para Shohibulqurban (istilah: panitia qurban), mereka membeli hewan qurban asal tidak cacat fisik dan para Takmir (istilah: panitia qurban) pun menerima apa adanya. Padahal kesehatan hewan merupakan rangkaian kondisi sebagaimana sabda Rasulullah saw.
Proses Penyembelihan Hewan Qurban
Penyembelihan hewan qurban dilakukan dengan tata cara agama islam, sesuai fatwa MUI dan persyaratan teknis hygiene dan sanitasi. Syarat tersebut meliputi: Kepala hewan direbahkan menghadap kea rah kiblat, proses penyembelihan dilakukan secara cepat untuk mengurangi penderitaan, membca Basmallah, memutuskan 3 saluran yaitu 1) saluran nafas (hulqum), 2) jalan makan (mar’i) dan 3)pembuluh darah (wajadain). Hewan di potong dengan sekali tekan, potong dengan tanpa mengangkat pisau dari leher. Setelah hewan mati dengan sempurna, maka dilakukan proses yang lainnya.
Petugas yang menangani daging harus dalam kondisi sehat, menjaga kebersihan tangan, tempat dan pakaiannya, tempat penyimpanan, penangana dan dan pemotongan daging menjadi bagian-bagian kecil harus terpisahbdari tempat penanganan jerohan, karena jerohan mengandung lebih banyak kuman di bandingkan dengan daging. Bagian potongan daging dalam kantong atau wadah yang bersih dan terpisah dari jeroan. Bila menggunakan kantong plastik harus transparan.
Saran
Mengingat belakangan ini banyak penyakit bersifat zoonosis maka disarankan kepada para blantik, Shohibulqurban dan Takmir agar memperhatikan kondisi kesehatan hewan yang hendak dipersiapkan untuk hewan qurban. Agar di samping kita mendapatkan pahala dari Allah SWT, kita pun dapat memberikan daging ASUH (Aman, Sehat, Utuh dan Halal).
Miss Dewi adalah dokter hewan mudaFKH-UGM
Tulisan ini di muat pada Koran Kedaulatan Rakyat Yogyakarta
Idul Adha 1427 Hijriah,tanggal 31Desember 2006

Tidak ada komentar:
Posting Komentar