Antara Domba BAZNAS dan Anak-Anak SekolahanPrivat Bahasa Inggris GRATIS diselenggarakan oleh penulis setiap hari minggu pkl 08.00 sd 10.00 WIB untuk peserta umum dan setiap hari pkl 16.00 sd 17.45 WIB untuk peserta kelas excelent. Privat ini sudah berjalan selama 2 minggu. Awal mula ide privat gratis ini muncul dari rasa kesepian sang penulis karena penulis tinggal di lokasi kandang domba yang jauh dari pemukiman penduduk. Kami tinggal bersama para anak kandang atau perawat domba yang didampingi oleh para istri dan anak-anak mereka. Jumlah anak kandang kami hanya 3 orang. Setiap waktu kami hanya mendengar suara domba mengembik-embik. Setiap malam kami mendengar suara jangkrik dan burung hantu. Lokasi kami bersebelahan dengan tempat pemakaman umum.
Selama kurang lebih 3 bulan saya tinggal di lokasi ini. Saya di fungsikan sebagai manajer farm dan merangkap pekerjaan sebagai dokter hewan. Hubungan saya dengan para karyawan baik-baik saja. Malah kami sangat kompak. Mereka sudah seperti kakak-kakak ku sendiri. Demikian halnya hubunganku dengan keluarganya. Sekali-kali saya pun turun gunung dan bermasyarakat. Maklum, saya tinggal di pedalaman, tepatnya di desa Cimande Hilir, Kec. Cimande Kab. Bogor.
Saya terbiasa hidup di tengah keramaian, minimal ketika in the kost sejak SMP sampai kuliah, saya tinggal di asrama putri bersama 100 an orang bahkan ribuan pada barak yang berbeda. Dan setamat kuliah saya pun tinggal di asrama pada provinsi yang berbeda. Namun dini hari, saya mesti melapangkan dada.
Kebetulan di pusat keramaian desa terlihat banyak anak-anak sekolah madrasah. Rupanya setiap rumah tangga disini mempunyai 6-9 orang anak dan mereka sekolah sampai tingkat SD atau SMP bahkan ada yang buta hurup karena keluarga mereka tidak sanggup membayar uang seragam sekolah ataupun uang jajan anak-anaknya. Orang tua mereka rata-rata bekerja sebagai buruh tani. Sangat ironis bukan? kalau desa Cimande Hilir ini telah terkenal sebagai tempat pengobatan patah tulang di Jawa Barat dan sekitarnya serta terkenal sebagai sentral ternak domba, namun warganya masih ada yang buta hurup? Bagaimana sentuhan hati nurani para pengunjung desa tersebut? Mengingat para pengunjung biasanya adalah para pengusaha sukses dan para pejabat.Nach... melalui program privat bahasa inggris gratis inilah, saya mengadakan pendekatan massal di desa Cimande Hilir terutama bagi mereka yang lahir dari keluarga kurang mampu dan keluarga awam pendidikan. Saya berharap adik-adik tersebut bisa mengenyam pendidikan dengan layak dan sekiranya mendapat perhatian baik dari pemerintah maupun para pengusaha swasta. Sebenarnya, anak-anak tersebut mempunyai cita-cita yang tinggi dan mereka ingin sekali tahu rasanya menjadi seorang yang pintar seperti para kakak-kakak yang sedang kuliah atau Bapak/Ibu sarjana. Namun mereka tidak tahu informasi apapun tentang pendidikan. Mereka tidak tahu apa manfaat dari sekolahan itu. Mereka berfikir setiap insan selalu makan nasi dan takut kalau sakit. Demikian sederhananya pemikiran mereka...
Ketika saya mengajar, biasanya saya memasukkan vocabularis (kosa kata) yang ada di sekitar mereka dan saya membuat game dengan kebiasaan harian mereka. Kadang dalam permainan game mereka mesti membayar hukuman dengan berdiri beberapa detik dan langsung duduk atau menyilangkan kaki dan mesti bisa membuat tertawa teman-teman yang lain. Demikian program conversationnya, mereka mesti berlagak kayak sandiwara atau drama.
Alhamdulillah, kegiatan saya ini mendapat respon positif dari teman-teman para pemerhati pendidikan, pecinta anak-anak dan beberapa penerbit buku. Kami mendapat sumbangan buku cerita, buku smart, kamus mini. Namun untuk peralatan yang lain misal papan tulis, spidol, dan lain-lain masih swadaya. Kadang-kadang kami menggunakan lantai porselin sebagai pengganti papan tulis. Maklum, write board kami hanya berukuran 30 cm x 100 cm. Itu pun milik Sentral Ternak Domba, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) yang kadang-kadang di pakai untuk catatan Kesehatan Domba. Gambar 3. adalah para anak kandang atau perawat domba milik BAZNAS, (dari belakang ke depan: Mang Jali, Mang Eddy, dan Mang Acep Saefuddin). Mereka lah orang-orang yang mempromosikan program kami ke masyarakat ketika mereka mengarit rumbut ke kebun dan rupanya mereka sangat menyukai kehidupan anak-anak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar